
Fakta Menyedihkan Ketimpangan Qurban, 65% Qurban Menumpuk Di Kota
Momen Idul Adha selalu menjadi hari raya yang paling dinanti. Di kawasan perkotaan atau kompleks perumahan, gema takbir senantiasa diiringi dengan sibuknya panitia memotong puluhan ekor sapi dan kambing. Semua bahagia, semua bersuka cita menikmati lezatnya sajian daging qurban.
Namun, pernahkah kita menyadari bahwa kemeriahan ini sering kali tidak sampai ke ujung negeri di pelosok desa. Saat masyarakat kota bingung mengolah tumpukan daging, ada saudara-saudara kita di pedalaman yang bermimpi untuk sekadar mencicipi sepotong daging setahun sekali.
Ibadah qurban sejatinya adalah ibadah sosial yang dirancang untuk berbagi kebahagiaan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan yang memprihatinkan. Berdasarkan pemetaan internal Laznas Alzis Alwashliyah pada tahun 2025, terungkap bahwa sekitar 65% distribusi hewan qurban hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Fenomena penumpukan daging ini juga sejalan dengan hasil studi dari Institute for Demographics and Poverty Studies (IDEAS) yang mencatat bahwa konsumsi daging yang sangat tinggi memang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sebaliknya, persebaran daging qurban belum merata di daerah-daerah yang tingkat konsumsi dagingnya rendah. Akibatnya, sekitar 35% wilayah pelosok negeri mengalami keterbatasan akses qurban yang sangat parah.
Lebih menyayat hati lagi, data menemukan bahwa terdapat desa-desa terpencil yang warganya sama sekali tidak menerima atau memakan daging qurban selama 5 hingga 10 tahun terakhir. Inilah bukti bahwa ketimpangan sosial dan pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama.
Menumpuknya qurban di kota besar sering kali menghilangkan esensi kebermanfaatan dari ibadah ini. Qurban yang seharusnya menjadi alat pemerataan sosial bergeser maknanya ketika daging hanya dibagikan kepada mereka yang sehari-harinya sudah terbiasa memakan daging.
Direktur Laznas Alzis, Muhammad Affan, S.Si., senantiasa menegaskan, “Kami ingin memastikan bahwa setiap qurban benar-benar sampai kepada mereka yang selama ini jarang merasakannya”.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, menjelang Idul Adha 1447 H ini, lembaga zakat terpercaya Laznas Alzis Alwashliyah kembali menggulirkan inisiatif program Qurban Desa, Sampai ke Ujung Asa. Ini adalah sebuah upaya untuk mendistribusikan hewan qurban agar ketimpangan konsumsi daging antara kota dan desa dapat diatasi.
Pada tahun 2026 ini, Laznas Alzis memasang target masif untuk menyalurkan 1.200 ekor kambing/domba dan 180 ekor sapi ke lebih dari 120 titik terluar yang membentang di 18 provinsi, serta wilayah krisis kemanusiaan. Sebanyak 25.000 jiwa penerima manfaat siap menyambut kebahagiaan dari qurban Anda, yang difokuskan pada masyarakat dhuafa pelosok (40%), penyintas bencana (25%), santri pesantren terpencil (20%), hingga komunitas mualaf (15%).
Kini saatnya kita mengubah cara kita berqurban. Kalau selama ini kita berqurban di kota. Tahun ini kita coba bagikan di desa. Mari percayakan qurban Anda melalui Laznas Alzis Al-Washliyah dan jadilah bagian dari solusi untuk memutus ketimpangan ini





